Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Juli 2011

Cinta Farhan ( Tamat )

Sally tercengang di depan pintu kamar mandi, wajahnya mendadak pucat dan kelihatan bingung.

“Ohh… Tuhan kenapa jadi begini? Bagai mana aku bilang ke Farhan bahwa aku hamil. arrrrrrrrrrgggggggghhhh” Sally merintih dalam hati. Lalu membanting pintu kamar mandi dan segera berlalu kekamarnya.

”Apapun yang terjadi aku harus memberi tahu Farhan, bayi ini juga anak dia.” Sally segera mengganti bajunya dan meluncur dengan mobilnya menuju rumah Farhan.

Mama, ma'afkan Nisa


“Aku mencintai markus ma, kenapa mama tak biarkan aku bersamanya?” Aku mendebat mama yang mempermasalahkan hubungan ku dengan atasan ku dikantor.

“Apa yang kurang dari dia ma, dia jelas-jelas seorang yang sukses, kaya, ganteng dan yang pasti dia sayang sama Nisa.” Lanjutku dengan nada yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

“Akidah nduk yang jadi pertimbangan mama, pernikahan beda agama akan menimbulkan banyak konflik dalam rumah tangga nantinya” Mama tetap tenang menyanggah setiap perkataanku.

Sabtu, 02 Juli 2011

Sang Pengembara

Cerpen: Antoni

CINTA membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk gaib itu datang, menyergapku dari belakang, membantingku dengan kasar, jatuhlah aku ke pelaminan.

Aku seorang pengembara, tapi kini aku terjerat tali pernikahan. Bayangkan. Seorang pengembara terjerat tali pernikahan! Pernikahan tanpa janur kuning melengkung, tanpa kelapa gading menggelantung, tanpa setandan pisang raja, melati dironce-ronce,

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Minggu, 19 Juni 2011

Senja

Cerpen Yanusa Nugroho

Sering dibayangkannya bahwa awan-awan yang putih di bentangan langit biru itu adalah pulau-pulau kapas. Kadang, awan itu membentuk bentangan air terjun yang membeku, atau gunung karang putih yang mengambang di lautan biru.

Sehari penuh dia amati setiap perubahan yang ada di langit sana. Dan ketika
awan-awan itu kian memerah dan akhirnya hilang oleh gelap malam, dia pun berjalan pulang ke rumahnya. Di sapanya rumput, batu, tanah dan perdu. Disenyuminya angin yang dengan nakal menyusup-nyusup di sela rambutnya.
Kumpulan cerpen, kisah hikmah, kisah teladan, cerita islami, humor sufi, tauziah dan lain-lain semua terangkum dalam Cerita Kehidupan tersaji untuk anda, dan Selamat Membaca