Sabtu, 11 Juni 2011

Cinta Farhan ( bag 1)

Aku tertegun saat aku melihat seorang gadis cantik berkerudung merah melintas didepanku, pandangannya tertunduk memandangi jalan yang dia lalui, aku yang tengah berkumpul dengan teman-temanku mencoba untuk menggodanya, yaaahh Aisyah, dia gadis paling cantik dikampungku, gadis ramah yang sederhana dan santun.

“Aisyah… duhhh cantiknya, mau kemana neng?” Aku mencoba menggodanya.

  Aisyah hanya tersenyum simpul dan mengangguk, kearah ku…

“Aisyah abang anter yukkk…” Timpal andi temanku

“Idih ini anak ikut-ikut aja, minggir lu…” Aku berucap sambil membungkam mulut Andi.


  Aku lihat senyum Aisyah yang tertahan dibibirnya melihat ulah ku dan teman-temanku. Lalu dia berlalu dan tak mempedulikan tingkah ku dan teman-temanku yang masih berteriak-teriak menggodanya. Yaaahhh Aisyah dia selalu bersikap tenang walau kami selalu mengganggunya.

“Aduhhh… kayaknya gue jatuh cinta nich ma gadis itu, ohhh matanya tajam, bibirnya sexy abies…. Uhhhh” aku berkata sambil memeluk lengan ku sendiri.

“Alahh elu han, kemarin elu bilang jatuh cinta ama Nina anaknya Haji Somad, sekarang tergoda Aisyah.” Iwan menimpal ucapanku sambil mendaratkan tinjunya dilengan ku.

“Kaya gak tau Farhan aje lu wan, kalau belum macarin cewek sekampung belum mau kawin kali tuhhh anak hahaha” sahut Andi disambut gelak tawa teman-temanku yang lain.

  Aku hanya tersenyum, dan akhirnya berbaur dengan tawa riuh mereka, beginilah keseharianku, hanya duduk dipinggir jalan dengan teman-teman ku, minum-minuman keras dan menggoda gadis yang melalui tempat kami berkumpul, terkadang ribut dan berkelahi dengan pemuda dari kampung sebelah, yahhh selalu ada keributan disetiap tempatku dan teman-teman satu gank ku berkumpul.

Tak ada rasa takut dihati kami kepada siapapun, kami akan berkelahi dengan siapapun yang berani mengganggu teman satu gank kami, tak peduli mereka benar atau pun salah.

  Jam sebelas malam aku tlah tiba dirumahku, adik perempuanku Rina masih sibuk mengerjakan PR nya.

“Belum tidur Rin?” Tanyaku sambil duduk melepas sepatuku.

“Tanggung Bang, PR nya belum kelar, Abang dah makan?” Tanya Rina sambil menoleh kearahku.

“Udah, cepet tidur dah malem.” Ucapku sambil berlalu kekamarku.

“Iya Bang, met malem.”


   Aku tak segera terlelap setelah aku berbaring diatas ranjangku, dalam benakku selalu terbayang senyuman bibir Aisyah, dia begitu lembut dan teduh, tatapan matanya menyejukan jiwaku.

“Ahhhh gila, apa apaan nichhh…” Aku menggerutu dalam hati dan bangun lalu duduk di balkoni kamarku yang berada dilantai dua rumahku.

   Yah… rumah mewah milik orang tua ku yang hanya ditempati oleh aku dan adik ku Rina serta Bi Inah pembantu rumahku yang merawat kami sejak kecil, ayah dan ibu kami selalu sibuk dengan bisnis mereka diluar kota bahkan tak jarang melalang buana hingga ke luar negri. Memang kebutuhan lahir yang berupa materi bagi kami terpenuhi tapi kebutuhan batin yang berupa kasih sayang tak pernah kami dapatkan, hanya Bi Inah lah yang selalu mencurahkan kasih sayang nya kepada ku dan adikku.

  Aku adalah jiwa yang memberontak, aku sama sekali tak suka ada seorang yang mengatur langkahku, termasuk orang tua ku, mereka menginginkan aku menyelesaikan study ku dan mendapat gelar sarjana, tapi aku sama sekali tak berminat dengan buku-buku pelajaran yang membuat aku seperti orang bodoh. Entah lahhh….

  Sayup-sayup aku dengar adzan Subuh berkumandang, ada rasa dingin yang menyusup sanubariku, lalu aku turun kelantai bawah bermaksud kedapur tuk mengambil air minum, sebelum masuk kedapur aku melewati kamar Bi Inah, aku tertegun melihat perempuan separuh baya itu tengah khusyu dalam shalatnya. Wajah keriputnya terlihat sangat berwibawa. Aku segera memalingkan wajahku dan kembali ke kamarku sebelum aku sempat meneguk setetes air pun. Dan akhirnya aku terlelap dalam tidurku.

                                            *****************


 “Nak Farhan, bangun nak, dah siang makan dulu.” Suara Bi Inah membangunkan aku.

“Hemmm.. jam berapa bi?” Tanyaku setelah aku terbangun.

“Dah jam dua nak, cepat mandi, bibi udah siapin makanan dimeja, bibi mau kepengajian siang dulu dimasjid. Cepet mandi, ganteng-ganteng kok kummel.”Bi Inah barkata sambil menarik selimutku, lalu berlalu darikamarku.

  Aku segera mandi dan mengganti pakaianku, lalu turun ke ruang makan untuk menyantap makan siangku, Rina sudah terlebih dulu duduk disana.

“Met pagi nona manis.” Aku menggoda Rina sambil mencubit pipinya.

“Met malem pangeran Kodok, kok bangun? Emang perutnya bisa ngrasa laper juga yah?”

“Gak laper tapi ini dalam rangka menyelamatkan makanan dari pada dibuang sia-sia.” Balas ku cuek sambil melahap makananku.

“Ehhh Rin, kamu kenal Aisyah gak?”

“Hoho siapa sih yang gak kenal Aisyah Bang, gadis paling cantik dan paling pendiem disekolah Rina, dia kakak kelas Rina, setahu Rina dia termasuk salah satu cewek tercerdas di sekolah. Hemmmm naksir yah? Haha mana mau Aisyah ama Abang ku yang kummel, dekil dan jelek ini haha!!” Rina nyrocos tanpa memandangku.

“Sialan lu Rin, liat aja gue pasti bisa jadiin dia kakak ipar lu.”

“Haha atau Abang mati gantung diri karena cintanya ditolak Aisyah hahaha cacingan Abang gue.” Setelah berkata seperti itu rina berlari kekamarnya.

“Heran ni anak gak ndukung banget ama Abangnya.” Gerutuku dalam hati.

  Tekadku dah bulat hari ini, aku ingin berkenalan lebih dekat dengan Aisyah, dengan berjuta rasa ragu aku melaju sepeda motorku kerumah Aisyah, sebuah rumah mungil diujung kampungku, rumah sederhana yang ditumbuhi pohon mangga dihalaman depannya, beberapa batang pohon mawar yang tengah berbunga menambah asri pemandangan didepan rumah itu, seorang wanita separuh bara tengah asyik memberi makan sekelompok anak ayam dengan segenggam jagung yang berada ditangannya. Ada rasa ragu dihatiku saat aku hendak melangkahkan kakiku kehalaman depan rumah itu. Sejenak aku berhenti dan menarik nafas dalam-dalam, belum pernah aku merasa segugup ini.

“Assalamu’alaikum. Permisi bu, bener ini rumahnya Aisyah?” Tanyaku sedikit ragu.

“Wa’alaikumsallam. Ya bener, nak ini temennya Aisyah?”

“Emmmm bukan bu, emmm maksud saya, saya kenal Aisyah tapi belum kenal bu.” Ucapku gugup.

“Hahaha bagai mana nak ini, wong kenal kok gak kenal sih, ya udah mari masuk dulu.” Sahutnya ramah, sepertinya dia bisa menangkap kegugupanku.

  Aku mengikuti Ibu Aisyah memasuki rumahnya, sungguh sebuah rumah yang sangat mungil namun penuh dengan keindahan sebuah lukisan besar wajah Aisyah tergantung didinding ruang tamu, sebuah pot besar berisikan bunga matahari berdiri disudut ruangan. Meja dan kursi yang terbuat dari kayu jati tertata rapi ditengah-tengah ruaangan.

“Silahkan duduk nak, sebentar Ibu panggilkan Aisyah.”

“Makasih Bu, maaf merepotkan” Lalu Ibu Aisyah masuk kedalam rumah, dan aku asyik terhanyut dengan fikiranku sendiri. Yahh… ini lah yang disebut rumah, sebuah keluarga yang benar-benar hidup. Ada seorang Ibu yang mengasuh anak-anaknya, merawat dan menjaga mereka.

  Sayup-sayup aku dengar suara Ibu Aisyah memanggil putrinya, menyuruh Aisyah keluar menemuiku. Selang beberapa menit Aisyah keluar dengan nampan berisikan segelas the manis beserta singkong goreng ditangannya.

  Dia tersenyum padaku dan mempersilahkan aku minum.

“Mas Farhan tumben mampir?” Tanyanya sedikit malu-malu.

“Emmmm iya, tadi kebetulan lewat, jadi sekalian aja berkunjung.” Jawabku sekenanya, entah lah seumur hidup aku tak pernah merasa segugup ini dihadapan wanita. Yahhh.. aku dah puluhan kali mendekati wanita, tapi aku tak pernah merasa sekerdil ini.

“Aisyah satu sekolah dengan Rina ya?” Aku berusaha membuka pembicaraan.

“Iya mas, Aisyah kakak kelas dik Rina, kalau gak salah mas Farhan Abangnya dik Rina bukan?” Aisyah balik bertanya.

“Yup, bener. Kok tau?”

“Ya tau lah mas, kan mas sering ngnterin Rina kesekolah!”

“hehe iya juga yak? Maksud mas kok Rina perhatian banget ma mas, sampai-sampai tau  mas sering nganterin Rina.”

“Ihh bukan gitu orang Aisyah liat kok.” Timpal Aisyah malu-malu.

   Selanjutnya kami berbincang tentang sekolah dan keluarga, Aisyah juga sempat menanyakan kenapa aku suka sekali nongkrong dipinggir jalan dan menggoda cewek-cewek yang lewat didepan kami. Perbincangan kami semakin hangat setelah Bapak, Ibu serta adik laki-laki Aisyah ikut nimbrung bersama kami. Entahlah seakan-akan aku berada ditengah-tengah keluargaku sendiri, Ayah dan Ibu ku jarang sekali duduk satu meja makan bersama kami. Saat tiba adzan Maghrib mereka mengajakku Shalat bersama, tapi aku menolak dan berpamitan pulang.

“Jangan kapok main kesini ya nak Farhan?” Ucap Ibu Aisyah saat mengantarku kedepan pintu.

“Iya bu, makasih, Assalamu’alaikum.” Aku pun berpamitan dan segera melaju dengan motorku, aku sempat melihat Aisyah tersenyum kearahku. Dan melambaikan tangannya

  Hatiku berbunga disepanjang perjalanan pulang, ada angin segar yang berhembus membelai jiwaku yang gersang, aku tak tahu apakah karena Aisyah atau karena keramahan dan kehangatan keluarga Aisyah padaku. Adzan Maghrib mengiringi langkah kakiku memasuki rumahku, rumah keluargaku sendiri yang selalu sunyi senyap, tak ada sapaan lembut seorang wanita yang melahirkan ku, tak ada nasehat bijak dari laki-laki yang sangat aku hormati.

  Lagi-lagi aku melewati kamar Bi Inah dan melihat dia sedang khusyu dalam Shalatnya, aku perhatikan Bi Inah dari balik pintu, wajahnya yang teduh membuat aku ingin bermanja padanya seperti ketika aku masih kecil. Aku menarik nafas panjang dan segera naik kekamar ku.

  Ku pandangi dinding kamarku yang dipenuhi dengan gambar-gambar grup musik favoritku, beberapa botol arak tertata rapi dilemari kaca kecil disebelah televisi. Aku mengambil sebotol yang telah terbuka dan menuangkannya kedalam gelas, dan meneguknya perlahan, lalu berjalan menuju balkoni kamarku, kuambil kanvas dan mulai melukiskan imajinasiku, seorang gadis berkerudung merah dengan senyum manis yang menghias bibirnya, yah wajah Aisyah lah yang selalu melekat dalam ingatanku…


Bersambung ke bag 2

 pengarang : atien


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan cerpen, kisah hikmah, kisah teladan, cerita islami, humor sufi, tauziah dan lain-lain semua terangkum dalam Cerita Kehidupan tersaji untuk anda, dan Selamat Membaca