Kamis, 16 Juni 2011

Cinta Farhan (bag 2)

Pagi pagi sekali Aisyah sudah bangun, dia bergegas mandi lalu shalat subuh dikamarnya. Hari ini hari terakhir disekolahnya.

“Sedih juga harus meninggalkan sekolah dan temen temen.” Gumam Aisyah dalam hati.


Jam 6.30 dia berpamitan pada Ibu Bapak nya untuk berangkat kesekolah, seperti biasanya sahabatnya Risma sudah menunggu didepan rumahnya.

“Assalamu’alaikum Ibu nyai.” Yahhh Risma selalu memanggilku dengan sebutan Ibu nyai saat menggodaku.



“Wa’alaikumsallam nona manies, dah sarapan belum?” jawabku sambil memberikan  sepotong pisang goreng yang aku goreng pagi tadi.

“Wew, you always know what I want dear.” Sahut Risma sambil menyambar pisang goreng ditanganku dan melahapnya. Aku hanya tersenyum dan berjalan disamping nya.

“Ohh ya syah, aku dengar Farhan datang ke rumahmu yah? Ngapain dia?” Tanya Risma sambil terus mengunyah pisang goreng dimulutnya.

“Cuman mampir kok, gak ngapa-ngapain, km kok tau cih?”

“Lah elu Syah kaya kagak tau gue aja… haha ratu gossip” jawab Risma sambil tertawa lebar lalu melanjutkan ucapannya…

“Jangan jangan naksir kamu Syah!”

“su’udzon kamu, orang cuman kebetulan lewat trus mampir kok… ehhh cepet Ris dah mau masuk tuhh…” aku mengalihkan pembicaraan dan menggandeng tangan Risma masuk kedalam gerbang sekolah.

Tak ada pelajaran hari ini, cuman acara perpisahan yang diisi dengan pertunjukan kesenian dan makan makan, sebenarnya aku tak suka keramaian, maka aku memilih duduk menyendiri dibawah pohon rindang menyibukan diri dengan buku ku, baru beberapa saat aku duduk Doni teman sekelasku yang sekaligus mantan ketua Osis di Sekolahku menghampiriku. Dan duduk disampingku.

“Kok sendiri Syah? Gak nimbrung tuhh acaranya seru banget” Ucap Doni membuka pembicaraan.

“Nggak ahhh males, bising banget. Lah kamu sendiri kenapa disini?”

“Tadi aku liat kamu sendiri so aku pengen nemenin kamu aja.”  Jawab Doni sambil memungut daun nangka kering yang jatuh didepannya.

“Syah, kamu ada rencana apa selanjutnya?” Lanjut Doni.

“emmm aku paling cari kerja Don, benernya pengeen kuliah tapi aku kasihan ma ortu, lagian adik ku juga belum kelar sekolahnya, kamu sendiri?”

“Ayah ku menginginkan aku melanjutkan kuliah ke Jogja, and I have to go, aku tinggal dengan paman ku disana. I will be missing you Syah.” Ucap Doni sambil menatapku.

“Me too… come on Doni jangan sedih geto dunk, kita kan masih bisa ketemu dihari libur kamu.”

Kami memang berteman sejak kecil, aku menganggapnya bukan sekedar teman tapi lebih pada seorang kakak. Tapi hubungan kami sempat terganggu karena Doni nekat menyatakan cintanya padaku beberapa bulan yang lalu, yahhhh Doni hanya aku anggap teman, aku tak mau hubungan kami retak hanya karena urusan cinta. Maka dengan halus aku menolaknya.

“Masuk yuk Don, Risma nyanyi tuhhh… haha dia slalu ingin aku menontonnya saat dia nyanyi.” Ajak ku sambil berdiri, aku sudah berlalu dari tempat duduk ku sebelum Doni sempat menjawabku.

                                     *******************


Udara siang ini begitu panas, angin pun seakan enggan berhembus ditengah tengah terik mentari, beberapa penjual es keliling mengkal didepan sekolah ku, aku berjalan sendiri karena Risma pulang kerumah neneknya ditempat yang berlawanan arah, baru beberapa meter aku berjalan tiba tiba sebuah sepeda motor berhenti disampingku, aku berhenti dan menoleh kearahnya..

“Syah, mbonceng yuk? Aku antar!” Ucap Farhan dari atas motornya.

“Gak usah mas makasih, bentar lagi juga sampai.” Aku berusaha menolak.

“Ayo lah kita kan satu arah Syah.”

Aku gak enak hati hendak menolak lagi, akhirnya aku menurut dan naik keatas motor Farhan, gak ada percakapan yang terjadi diantara kami, kami hanyut kedalam pikiran kami masing masing. Sementara disepanjang jalan semua mata memperhatikan kami, yah mungkin karena ini pertama kalinya aku berboncengan dengan seorang laki laki, apa lagi laki laki itu adalah Farhan yang terkenal sebagai preman di kampung kami.

Sepeda motor berhenti tepat didepan rumahku, lalu aku segera turun dan membenarkan letak jilbabku yang agak berantakan karena tertiup angin disepanjang perjalanan.

“Makasih mas, nggak mampir dulu.” Ucapku setelah aku turun dari motor.

“Ntar malem aja aku datang lagi kesini ya Syah? Kamu gak keberatan kan kalau aku bertamu? Itu pun kalau kamu gak ada yang ngapelin.”  Jawab Farhan sambil menatap aku daalam dalam.

Aku tertunduk dan hanya mengangguk mengiyakan.

“Sampai ketemu ntar malam Syah, aku pulang dulu.” Lalu farhan berlalu dengan motornya, aku hanya berdiri terapaku menatap kepergiannya. Dan sesaat kemudian aku masuk kedalam rumahku. Mandapati ibuku yang rupanya memperhatikan aku sejak tadi dari dalam rumah.

                                                ****************


Hujan rintik rintik membasahi bumi malam ini, namun tak menyurutkan semangatku untuk datang ke tempat Aisyah, yahhh aku sudah menunggu berbulan bulan untuk mendekati gadis itu.

Cukup lama juga aku menatap wajahku didalam cermin, aku diciptakan sempurna, hidung mancung dan kedua bola mata yang tajam kelihatan serasi dengan dagu panjangku. Aku tersenyum sendiri, dan segera mengganti bajuku. Kaos oblong warna hitam yang aku beli ketika aku berlibur ke Bandung, dengan celana jeans warna kusam kesukaanku jadi pilihanku.

Jam 8 tepat aku turun dari kamarku…

“Ceilehh… abang gue keren amat, mo kondangan ya Bang?” Goda Rina yang sedang asyik  nonton drama Korea  kesukaannya.

“Diem lu anak kecil, makan coklat aja nich.” Ucapku sambil melempar satu bar besar Tobleron kesukaan adik ku.

“Mau ngapelin Aisyah yah Bang?” Rina mendekat dan merangkul pundak ku.

“ha ha yup tau aja, liat Abang lu yang ganteng, pantang ditolak ma cewek.” Aku berlalu setelah aku cubit hidung Rina..


Karena hujan aku mengendarai mobil pemberian ayah ku ke rumah Aisyah, disepanjang jalan aku berfikir keras bagai mana cara untuk mengungkapkan isi hatiku pada Aisyah, aku takut dia menolak dan akhirnya membenciku.

“Ahhh, sialan aku selalu gugup setiap kali ada didepannya.” Gumamku dalam hati.

Hanya beberapa menit aku telah sampai didepan rumah Aisyah, rumah terlihat sepi, aku segera keluar dari dalam mobil ku dan mengetuk pintu.

Ibu Aisyah keluar dari dalam rumah dan tersenyum ramah, lalu mempersilahkan aku masuk dan duduk diruang tamu.

“Aisyahnya ada bu?” Tanya ku membuka pembicaraan.

“Aisyah udah berangkat tadi sore ke Jogja, dia minta maaf karena gak sempat pamit sama nak Farhan.”

“Emang Aisyah ngapain di Jogja Bu?” aku kembali bertanya dengan berjuta rasa kecewa dihatiku.

“Aisyah mendapat Bea siswa nglanjutin kuliah disana, sekalian nyantri dipesantren milik kakeknya, mau minum apa nak Farhan?”

“ohhh enggak Bu makasih, saya pamit saja dulu.” Aku segera berpamitan dan berlalu dari rumah Aisyah.

Ada berjuta kekecewaan yang berkecamuk didadaku, aku melaju mobilku dengan kecepatan tinggi menyusuri jalanan kampungku dan keluar menuju kota yang berjarak beberapa kilometer dari desaku. Aku ingin melampiaskan kekecewaan malam ini dengan berkumpul bersama teman temanku. Sesampainya diBar tempat biasa aku dan teman2ku nongkrong aku segera memarkir mobilku dan masuk kedalam.


“Akhirnya datang juga pangeran tampan kita.” Goda teman teman ku saat melihat kedatanganku.

“Malam ini temenin aku minum, aku yang bayar.” Ucapku sambil menyambar segelas whiskey yang ada dimeja.

“yu huuuu asyik choy, gua suka liat orang patah hati, haha jadi ada yang nraktir dwehh” Andi berkata sambil memesan beberapa botol whiskey. Aku terus menenggak minumanku tanpa mempedulikan ocehan mereka.

                                       ************************

Semenjak kejadian itu aku tak pernah lagi melihat Aisyah, sehari hariku hanya aku habiskan dirumah bergumul dengan kanvas dan lukisan ku, dan keluar bersama teman teman ku dimalam hari, aku serasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku. Sesuatu yang belum sempat aku miliki tapi telah pergi meninggalkan ku. Memang ada seorang gadis bernama Saly yang selalu menemani aku, selalu ada disaat sedihku, tapi aku telah terlanjur memberikan  cintaku pada Aisyah.

“Farhan are you in side?’ teriak Saly dari luar kamarku.

“Yup, masuk aja Sal.”

Lalu pintu kamarku terbuka, dan Saly berjalan masuk dengan senyum terkembang dibibirnya.

“Wew you look so dirty Farhan, mandi dulu sana, I have breakfast for u, you see… tuna fish sandwich.” Ucap Saly sambil meletakan bungkusan diatas meja.

Saly gadis manis yang selalu melakukan apapun untuk ku, gadis yang dengan tulus mencintaiku tanpa aku sanggup membalas cintanya, aku hanya merasa nyaman dengan segala perhatian yang diberikannya pada ku. Entah lah apa mungkin aku akan terus terbunuh dengan bayang bayang Aisyah, atau aku sanggup untuk mengalihkan hatiku pada Saly…

“Ahhhhh Aisyah..” gumam ku dalam hati dan segera berlalu ke kamar mandi.

Air dingin yang mengguyur tubuhku seolah menyegarkan alam sekitarku, sejenak aku terlepas dari fikiran tentang Aisyah, dan aku terkejut saat sepasang tangan lembut milik Saly memeluk ku dari belakang, aku berbalik dan memandang wajah saly yang menatapku sayu, aku angkat dagunya dan mengecup bibirnya, sesaat kami saling berciuman dan semakin hanyut tenggelam dalam remang remang lampu kamar mandiku…

Bersambung  ke: Cinta Farhan 3

pengarang : Atien

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kumpulan cerpen, kisah hikmah, kisah teladan, cerita islami, humor sufi, tauziah dan lain-lain semua terangkum dalam Cerita Kehidupan tersaji untuk anda, dan Selamat Membaca